DARI DESA KEMBALI KE DESA
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Dec | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||
Tak terasa tiga hari berada di kota Madinah al Munawaroh, serasa baru tiga jam. Cuaca yang sangat bersahabat dengan manusia, penduduk yang ramah tamah dan daerah atau tempat - tempat yang banyak sekali mengandung sejarah agama islam.
Masjidil Harom Nabawi yang begitu indah dan megah, pembangunan untuk tahun ini menambah payung-payung raksasa di halaman masjid yang begitu Agung. Di tahun baru Muharom, suasana kota yang begitu damai menambah rasa hati para jamaah haji merasa betah atau kerasan dalam bahasa jawanya.
Tiada kata yang paling terindah, jika kata-kata itu terucap dan keluar dari relung hati yang paling dalam. Namun ada kala kata-kata itu tak bisa terucap pabila terbentur sesuatu hal yang tak bisa terhindarkan, mungkin ini merupakan saat dimana aku tak bisa mengungkapkannya, dimana cahaya hatiku mendapatkan kesedihan dan kepedihan …. mala petaka itu telah datang sahabat, rasanya ingin terbebas dari beban petaka ini namun tak mungkin dan tak akan pernah mungkin bisa bebas begitu saja , mungkin untuk selamanya …. yang aku tahu hati dan pikiran kami sekeluarga begitu resah, amarah dan ketidak percayaan akan kejadian yang menimpa menjadikan kami begitu putus asa, namun kami pasrahkan semua ini kepada Tuhan YME …. berjuang untuk meneruskan perjalan hidup adalah titik cahaya untuk meraih kenyataan bahwa kehidupan masih panjang, itu yang sedang kami tanamkan sekarang ini.
Sebetulnya kenyataan pahit menjadikan hati menderita tanpa daya.
Sebenarnya duka yang telah ada, akan bertambah jika kita menguaknya.
Sepertinya kepedihan itu nyata, seakan menggores setiap tubuh kita yang tak pernah mengharapkannya.
Seandainya duka dan luka itu berhenti dan terhempas, pergi tanpa kata, mungkin kenyataan yang ada akan terlupakan seperti halnya kehidupan yang telah tenggelam dalam kenestapaan.
Sesungguhnya cahaya itu akan selalu ada pabila kita percaya dan yakin akan keberadaannya.
Sesungguhnya cahaya itu akan selalu ada, pabila kenyataan yang dirasakan akan berwujud pada kebajikan.
Sesungguhnya hati nurani itu kan terungkap pabila kata-kata menjadi makna, kenyataan menjadikan kepedihan, sedangkan kepedihan membawa kenyataan itu menjadi semakin tak berarah, seperti halnya tertutupnya perasaan dan kemanusiaan, sampai semua hal menjadi sebagian dari kehidupan dan kehidupan yang dijalankan dihalalkan dalam segala arah.
Seandainya kita mengerti dan semakin mengerti akan kepastian perjalanan, mungkin suatu hari perjalan itu kan disambut dengan penuh kebahagiaan, kebahagiaan yang diharapkan merupakan kebahagiaan dalam perjalanan yang telah diperhitungkan.
“Setiap jalan yang ditempuh merupakan pedoman awal dari kenyataan”
Kesan yang begitu indah di tinggalkan para Jamaaah Haji Indonesia pada musim HAji 2008 M. Banyak para jamaah Haji yang mengatakan puas dengan pelayanan dan pelaksaan Haji pada Musim haji 2008 m. Kebanyakkan Jamaah tersenyum puas karena pada tahun ini tidak terjadi musibah yang menimbulkan kehilangan nyawa. Biasa dan wajar kalau para jamaah Haji Indonesia yang pulang membawa oleh-oleh batuk dan pilek. “Kalau gak batuk bisa di katakan haji onta lo pak..” Kata salah satu Jamaah Haji asal Batam.